Kamis, 17 April 2014

Macet Membawa Berkah


Entah bagaimana dengan orang lain, tapi saya adalah tipe manusia yang yakin bahwa semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi dan untuk setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Seperti kejadian beberapa hari lalu.

Sore sepulang kantor perjalanan saya ke Apotek untuk membeli obat sakit jiwa ternyata harus terganggu. Macet. Kalo di Jawa atau di kota besar mungkin macet udah biasa, tapi di kota sekecil Sambas yang lampu lalu lintasnya saja hanya SATU dan seringnya tidak berfungsi macet adalah sesuatu yang amat sangat jarang bisa ditemui. Selidik punya selidik ternyata kemacetan sepanjang puluhan kilometer tersebut disebabkan karena ada 2 truk pengangkut kelapa sawit dari arah berlawanan yang “nyangkut” di jembatan akibat sempitnya jalan di jembatan yang melewati sungai Sambas tersebut.

Saya sudah sempat pasrah menunggu sampai kemacetan tersebut terurai saat samar-samar saya melihat ada pergerakan dari barisan depan rombongan kendaraan yang terjebak dalam kemacetan. Ternyata oh ternyata semua pergerakan tersebut dihasilkan oleh kendaraan-kendaraan yang memutuskan memutar dan berbalik arah. Apakah mereka menyerah dan memutuskan membatalkan perjalanan suci ke Barat menyeberangi sungai tersebut? Oh tentu tidak, rombongan kendaraan tersebut ternyata hanya berbelok mengambil jalan kecil di sisi sungai. Kemanakah mereka? Karena memang saya dasarnya orangnya penasaran dan lebih suka menemukan jawaban dengan mengalami sendiri, maka dengan penuh kenekatan saya mengikuti rombongan tersebut, “yah kalo ternyata salah dan harus balik yah balik aja nanti” pikir saya saat itu. Pelan-pelan sambil menikmati pemandangan langit yang berhias semburat jingga langit senja *tsaaahhhh* saya ikuti saja jalan kecil di sisi sungai yang sama sekali asing buat saya tersebut, sampai akhirnya mata saya tertuju pada sebuah jembatan. Yups! Perjalanan “iseng” saya mengikuti rombongan kendaraan tadi ternyata mengarah pada sebuah jembatan, tidak terlalu besar dan hanya terbuat dari kayu tapi masih tampak kokoh dan bisa dilewati kendaraan roda dua. Akhirnya sampailah saya ke seberang dan kembali menyusuri jalan kecil di sisi sungai ke arah berlawanan dan tercapailah misi saya untuk sampai di Apotek.

Hikmah dari kejadian ini adalah...saya “dipaksa” menjamah daerah baru yang tadinya sama sekali asing buat saya. Tanpa adanya kemacetan sore itu mungkin saya tidak akan pernah melewati jalan kecil di sisi sungai tersebut, bahkan saya mungkin tidak akan pernah tahu ada jembatan yang bisa dilalui di daerah itu. See? Bahkan dari kejadian seperti itu pun ada “manfaat” yang bisa kita dapat. Kejadian-kejadian yang kita anggap sebagai kemalangan, pasti ada tujuan yang disimpan Tuhan untuk kita di situ.

Lalu, adakah hikmah kejadian tersebut bagi pengendara truk yang “nyangkut” dan pengendara lainnya yang warga asli daerah itu dan sudah mengetahui keberadaan jembatan kayu tersebut? Well...ada. Entah apa. Tapi pasti ada.

Jumat, 11 April 2014

Bucket List

The Bucket List, film keluaran tahun 2007 yang dibintangi oleh Morgan "GOD" Freeman, entah kemana saja saya selama bertahun-tahun sampai-sampai baru beberapa hari yang lalu saya berkesempatan menyaksikan film ini.

Buat yang kebetulan belum nonton dan belum mengetahui tentang film ini, film ini bercerita tentang 2 laki-laki yang menderita kanker dan hidup mereka menurut dokter sudah tidak lama lagi, dan mulailah mereka membuat "bucket list" dan melakukan hal-hal yang mereka cantumkan di situ.

"bucket list" atau "things to do before "kicks the bucket"" ("kicks the bucket" adalah idiom dalam bahasa Inggris yang berarti "die") jadi "bucket list" itu semacam daftar hal-hal yang ingin dilakukan sebelum meninggal gitu deh...

Di film The Bucket List itu sih bucket listnya keren-keren, dari skydiving, mengendarai mobil Mustang Shelby, dinner di Chevre d'Or di Perancis, ke Taj Mahal, motor-motoran di Great Wall of China, safari di Afrika, sampe (niatnya) mendaki gunung Everest (yang akhirnya batal karena badai), dan bucket list yang isinya mengharuskan mereka untuk berkeliling dunia itu bisa mereka penuhi dalam waktu singkat karena emang salah satu laki-laki di film itu diceritakan sebagai orang yang kaya raya.

Anyway.... Nonton The Bucket List jadi bikin saya pengen bikin bucket list juga deh hahaahaha... Mungkin bukan cuma saya sih, sepertinya hampir semua orang juga punya "target pencapaian" yang pengen diraih sebelum meninggal... *shrug*, tapi mungkin memang ga semua orang yang iseng benar-benar menuliskan dan membuat daftar "things to do before I die" ini. Iya sih. Entahlah, sepertinya penting juga sesekali meluangkan waktu menuliskan bucket list ini, sekedar pengingat mungkin bahwa kita pernah punya mimpi.

Ini beberapa isi bucket list saya

  • Sambil menutup mata menunjuk sebuah kota di peta dan langsung travel ke kota tersebut
  • Skydiving (atau "olahraga" udara lainnya)
  • Bungee jumping
  • Traveling sendirian. 
  • Get a tattoo!!! kecil aja sih, I'm thinking "let it be" or "Vienna". Tapi entahlah, kaya'nya ga akan kesampaian kalo tato permanen, bukan karena ga berani sakitnya tapi ga berani karena dilarang agama sih ehehehe...
  • Mencoba makanan khas dari seluruh dunia. Plus, nyicipinnya di daerah asalnya, makan Pizza dan Pasta di Italia misalnya, ato Ramen di Jepang, Crepes di Perancis. Dalam sakala yang lebih mudah...makan Pempek di Palembang, Nasi Gudeg di Jogja, Serabi di Solo, Coto Makassar di Makassar, yah gitu-gitu deh
  • Merasakan suasana sebuah perayaan di "pusat"nya. Nyepi di Bali, Waisak di Borobudur, Imlek di Tiongkok, St. Patrick's Day di Irlandia.
  • White Christmas. Ga ngerayain Natal sebenarnya...cuma pengen aja ngerasain suasana Natal di tempat yang ada saljunya.
  • Tahun Baru di Times Square (Manhattan, New York City), kissing someone under fireworks on New Years Eve
  • Menulis dan menerbitkan sebuah buku
  • Menginjakkan kaki di 2 tempat sekaligus. Dulu sempat kepikiran tuh, mumpung di Kalimantan dan kebetulan tugas di daerah yang berbatasan dengan Malaysia jadi pengen tuh ngerasain kaki kanan di Indonesia dan kaki kiri di Malaysia. Tapi belakangan dikasih tau kalo di perbatasan tuh ada "wilayah bebas" yang bukan milik Indonesia atau Malaysia. Nanti deh cari info lagi hehehehehe...
  • Have someone write and sing a song about me. Hihihihihi...macam ABG yah..? Cuma karena seringnya jadi orang yang menulis dan menyanyikan lagu untuk orang lain, jadi pengen tau rasanya jadi sebaliknya :)
  • Make someone I love a birthday cake.
  • Grow old with someone that I love (d'oh! who doesnt?)
  • Bisa menginjakkan kaki di semua wilayah Indonesia, at least di pulau-pulau besarnya sih
  • Menguasai 3 bahasa asing
  • Ke Puncak gunung Merapi
  • Bawa si Monster naik gunung atau camping di pantai, berdua.
Apa lagi yah...hmmmm.... Banyak sih yah kaya'nya...sebagian besar berkaitan dengan traveling ahhaahaha... Kalo yang macam "membahagiakan orangtua" dan bla bla bla ga usah ditulis kali yah? :p

So, how about you???




Selasa, 25 Maret 2014

I Hate You

Awal kenalan saya sama sekali tidak tahu apa pekerjaan si Pacar. Pun ketika kami mulai dekat saya tetap tidak tahu apa pekerjaan yang dia tekuni. Sampai malam sebelum kami akhirnya "resmi" berpacaran saya secara iseng memasukkan nama lengkap si Pacar di mesin pencarian Google, and there...saya tahu apa pekerjaan dia. Sempat ada niat untuk back off, tapi setelah obrolan curhat mendalam bersama beberapa orang sahabat akhirnya saya memutuskan untuk yah dijalani aja dulu, it's just a job, it doesn't matter. I had no idea dia bisa menjadi amat sangat sibuk karena tanggungjawab yang dia pegang di perusahaannya.


*suatu hari 2 tahun yang lalu*

Suara di ujung telepon : Saya ga jadi pergi deh cocktail party malam ini
Saya : Kenapa? bukannya di sana kamu bisa ketemu sama klien dan rekan-rekan bisnis kamu?
Suara di ujung telepon : Saya mau ngobrol sama kamu aja
Saya : That's sweet... Tapi nanti kamu menyesal lho...
Suara di ujung telepon : Well, I'll probably miss the open bar and the free flow, but else I think I'll be fine...
Saya : *ketawa* Saya masih di sini kok, kita masih bisa ngobrol kapan aja. Saya ga mau aktivitas kamu keganggu demi saya
Suara di ujung telepon : Nanti akan ada saatnya dimana dalam sehari saya ga bisa menghubungi kamu karena kesibukan saya. Dan "nanti" itu bukan malam ini. Malam ini saya mau ngobrol sama kamu...
Saya : *senyum*


"nanti" itu adalah beberapa hari ini. "nanti" itu adalah beberapa minggu ke depan.


Sejak beberapa hari yang lalu si Pacar jadi sibuk sekali. Bolak balik ke kampus untuk merevisi thesis, pergi ke Bali untuk bertemu klien, kembali ke Surabaya berkutat dengan klien-klien yang rewel di kantor dan dosen-dosen perfeksionis di kampus, menyiapkan keperluan wisuda pasca-sarjananya, mengurusi orangtuanya yang akan datang ke Surabaya untuk menghadiri wisudanya, menghadiri event di Singapura selama beberapa hari, kembali ke Surabaya, dan langsung berangkat ke Bali lagi untuk menghadiri event internasional lainnya selama beberapa hari. Gosh! hanya menyebutkannya saja saya sudah ngos-ngosan, ga kebayang sih bagaimana dia yang harus menjalani semua itu.

I know, I know... Beberapa orang pasti berpikir "yakin loe dia sesibuk itu? yakin dia beneran sibuk? yakin dia ga "sibuk" sama perempuan lain?". Well, kalau saja saya tidak benar-benar tau orang seperti apa si Pacar, mungkin saya akan berpikir demikian juga. Tapi saya cukup tau dia, cukup mengenal dia untuk tau bahwa sibuknya dia bukan mengada-ada.

Tapi justru karena sibuknya itu sibuk beneran dan bukan mengada-ada saya juga jadi kesal sendiri. Maksud saya kalau ternyata dia pura-pura sibuk sih saya jadi bisa marah sama dia, tapi karena saya tau dia beneran sibuk saya jadi ga bisa donk marah-marah sama dia, jadi sebel sendiri, jadi nangis sendiri karena ga tau harus marah-marah ke siapa.

Kalo udah kaya' gini cuma bisa nyalahin "jarak". Namanya juga LDR, ga bisa ketemu setiap saat, ga bisa sering-sering ketemu, satu-satunya cara komunikasi selain lewat hati yang saling bertelepati yah pake' gadget, lewat telepon dan text yang kalo lagi capek dan pikirannya kemana-mana pasti berasa banget bedanya karena ngobrolnya jadi ga fokus, dan jadinya saya malas juga cerita macam-macam karena tau dianya ga fokus kebanyakan pikiran dan capek. Yah gitu deh pokoknya...


saya : I hate you. I hate you for making me so in LOVE with you *penekanan pada kata "love"*. And I miss you. And you're so busy and I feel so lonely. I miss you. I miss you so much it hurts. *terisak*
suara di ujung telepon : I miss you so much too
saya : I love you. But I hate you right now. And I'd probably hate you for weeks, but please bear with me because I'm trying to bear with the busy you too.
suara di ujung telepon : Iya, maaf yah... I will be very busy for the next two weeks with my graduation, my parents , and job, but I will try my best to make time for you. I love you so much
saya : *humming Celine Dion - Alone* ...till now I always got by on my own, I never really cared until I met you. And now it chills me to the bone. How do I get you alone? How do I get you alone?... *sigh*


Senin, 24 Maret 2014

The Conversation

saya : *sekuat tenaga menahan tangis*
suara di ujung telepon : kamu nangis? kamu kenapa? kakinya masih sakit?
saya : *mulai terisak*
suara di ujung telepon : Hun... Are you okay?
saya : I hate you. I hate you for making me so in LOVE with you *penekanan pada kata "love"*. And I miss you. And you're so busy and I feel so lonely. I miss you. I miss you so much it hurts. *terisak*
suara di ujung telepon : I miss you so much too

Rabu, 29 Januari 2014

To Make You Immortal

kehilangan, dalam bentuk apapun pasti menyakitkan.

Sejauh yang bisa saya ingat saya tidak pernah punya hewan peliharaan. Diawali dengan "keyakinan" bahwa bulu hewan tidak baik buat saya yang sering sakit-sakitan saat kecil dan kemudian saya jadi tidak suka dan tidak tertarik pada hewan peliharaan, apalagi kucing. Saya sama sekali tidak bisa mengerti apa yang menarik dari kucing, hewan berbulu pemalas yang sukanya tidur dan bermanja-manja. Bahkan ketika Mia yang sangat tergila-gila pada kucing berkali-kali menangis saat kucingnya mati karena berbagai hal, saya tetap heran "kok segitunya sih?". Saya mengerti kesedihannya, bahkan saya menambah satu point di daftar alasan untuk tidak punya hewan peliharaan "kalo sudah sayang trus hewannya kenapa-kenapa pasti sedih banget" tapi saya tetap tidak tahu bagaimana perasaannya. Sampai malam tadi. 

Berawal dari suatu pagi di hari Kamis saat kak Ririn menemukan seekor bayi kucing terlantar di laci meja kerjanya, dan karena iba kami memutuskan untuk merawat bayi kucing yang baru lahir tersebut. Iya, kami. Kamis malam bayi kucing jantan yang diberi nama "Qitty Silvester" a.k.a Q-Vest itu dirawat di kos kak Ririn. Keeseokan harinya kak Ririn harus pulang ke Pontianak, dan saya yang bahkan biasanya teriak-teriak geli saat didekati kucing ini akhirnya memberanikan diri merawat bayi kucing tersebut di kos saya. 

pandangan pertama *hallaaahhh....*

"Kalau melakukan sesuatu, lakukan dengan sungguh-sungguh, give it your 100 percent, supaya ketika sesuatu itu pergi kamu tidak menyesal karena sudah berusaha dengan maksimal dan tidak ada 'what if?' yang tertinggal di pikiran" demikianlah kira-kira pesan dari orang bijak yang pernah saya dapat yang selalu saya coba terapkan, pun ketika merawat Q-Vest. Dari hasil tanya-tanya sana-sini, google dan baca sana-sini saya belajar hal baru tentang perawatan (bayi) kucing. "Penghangat" kandang, susu khusus, dan sebagainya saya coba usahakan untuk Q-Vest, saya hanya tidak mau kalau ternyata Q-Vest tidak bisa survive saya akan terus-terusan menyimpan 'what ifs' di kepala saya karena saya tidak berusaha dengan maksimal.

si "bayi bau" yang rewel kalo jauh dari tangan

Sayangnya, hampir semua sumber yang saya dapat berkata bahwa bayi kucing tanpa induk perawatannya susah, tricky, kondisinya rentan dan kecil kemungkinan bisa survive, dengan itu semua saya kira saya sudah akan siap kalau ternyata Q-Vest ga bisa survive. But I was wrong.

Malam tadi, malam ke-6 Q-Vest, dengan semua perlakuan khusus dan maksimal yang kami usahakan buat dia ternyata kondisinya tetap memburuk dan akhirnya we had to let him go.

Dan akhirnya saya tahu bagaimana rasanya kehilangan seekor hewan peliharaan. Dan akhirnya saya tidak akan bertanya-tanya lagi bagaimana bisa seseorang menangis hanya karena hewan peliharaan.


Atau mungkin saya menangis karena alasan lain...? Entahlah. PMS is a bitch, so they say...


 Rest in peace dearest Q-Vest, you'll be remembered...

Ps: Terimakasih untuk semua teman-teman pecinta kucing yang sudah membagi info dan ikut mendoakan Q-Vest, you're all awesome.

Senin, 20 Januari 2014

Mood Booster

Musik. Saya ga pernah kepikiran sih ada orang yang tidak suka dan tidak menikmati musik. Mungkin ada. Tapi yang pasti bukan saya.

Saya seorang penikmat musik. A BIG fan of music. Segala jenis musik. Dari Campursari, Dangdut, Lagu-lagu Daerah (mana pun), Pop, Slowrock, “ajeb-ajeb”, klasik…. Apapun asal “klik” di telinga saya. Kadang saya berkhayal menanamkan sebuah chip di otak saya yang bisa diisi dengan lagu-lagu “enak” yang bisa secara otomatis memainkan lagu-lagu tersebut saat saya bangun di pagi hari, sepanjang hari sampai nanti saya tertidur lagi, apalagi kalo chip itu pintar dan bisa memainkan lagu sesuai dengan mood saya. Silly? I know… hahahahaha….

Anyway, karena mood pagi hari biasanya akan berpengaruh pada suasana hati sepanjang hari, saya jadi merasa perlu untuk menyiapkan playlist lagu-lagu khusus untuk saya dengarkan di pagi hari. Well, mood booster sih kalo bahasa kerennya… And here’s the list

7 Songs That Boost My Mood In The Morning

1. Toni Braxton – Let It Flow
Diawali dengan lagu slow berlirik “First thing early Monday morning I’m gonna pick my tears away…”. Lebih afdol kalo didengarkan habis patah hati sebanarnya hahahaha….tapi liriknya emang menenangkan sih buat saya… “…just let go, let it go, let it flow, let it flow, everything’s gonna be okay…”




2. Yuna – Rescue
Musiknya enak banget, biasanya dengerin ini bikin  joget-joget kecil, sambil maenan pisau, potong-potong apel buat sarapan. Suara Yuna enak banget juga, dan liriknya sangat menyemangati. “…she’s got light in her face, she don’t need no rescue and she’s okay. She’s got life in her veins, she don’t need no rescue and she’s okay. No S.O.S needed, no rescuing, she’s fine out there. That girl is you, yeah that girl is me, that girl is stronger than the raging sea…”. Semacam penyemangat bahwa seseorang harusnya merasa cukup hanya dengan dirinya sendiri, karena setiap orang sesungguhnya punya kekuatan yang cukup besar dalam dirinya untuk menghadapi apapun, tidak perlu merasa harus “diselematkan” oleh orang lain.




3. Owl City ft. Yuna – Shine Your way
Masih ada suara Yuna yang emang enak banget di telinga. “…morning is breaking, darkness is fading, we found a way to the light, it’s such a beautiful sight. All of your tears will dry faster in the sun, starting today, shine, shine, shine, shine your way…”. Goyang-goyang kepala ikut hentakan musiknya sambil olesin peanut butter ke potongan apel dan kunyah-kunyah. Well, breakfast juga mempengaruhi mood lho… Iya.




4. Owl City ft. Carly Rae Jepsen – Good Time
Siapa yang tidak kenal lagu ini? Hehehehe…. “…it’s gonna be alright, we don’t even have to try, It’s always a good time. Doesn’t matter when, It’s always a good time, doesn’t matter where, It’s always a good time. It’s always a GOOD time…”




5. The Beatles – Let It Be
Buat saya sih lagu ini seperti “mantera”, jiwa dari keseluruhan playlist bernama “mood booster” ini. Saya bahkan seringnya menyempatkan diri mengambil waktu tenang khusus untuk mendengarkan lagu ini, menghentikan apapun yang sedang saya lakukan hanya untuk menghayati lagu ini dan merapal mantera “…let it be, let it be, let it be, yeah let it be, there will be an answer, let it be. Let it be, let it be, let it be, yeah let it be, whisper words of wisdom, let it be…”. Simple, tapi “deep” buat saya.




6. Bob Marley ft. The Wailers – Three Little Birds
Lagu ini enaknya didengarkan sambil OTW ke kantor, musik reggae yang dipadu dengan hembusan angin di wajah…berasa santai di pantai hahahaha… “..don’t worry ‘bout a thing, ‘cause every little things is gonna be alright, singing…don’t worry ‘bout a thing, ‘cause every little thing is gonna be okay…”




7. David Guetta ft. Sia – Titanium
Coba melangkahkan kaki masuk ke gedung kantor sambil mendengarkan dan/atau mendendangkan penuh penghayatan lagu ini dalam hati, “…I’m bulletproof, nothing to lose, fire away fire away.. You shoot me down but I won’t fall, I am titanium, you shoot me down but I won’t fall, I am titanium…”. Ampuh juga sih kalo pas harus menghadapi klien atau bos yang “killer”, tatap matanya dan rapal mantra ini dalam hati “I am titanium… I am titanium…”. Yah asal ga setelahnya langsung ajeb-ajeb atau bahkan berhalusinasi punya kekuatan super lalu ngamuk dan meledakkan seisi kantor sih. Just saying…




So, itulah playlist mood booster saya di pagi hari. Asal sudah mendengarkan itu sih biasanya sudah siap untuk menghadapi kejadian apa saja sepanjang hari, semacam ingin berdiri di depan gedung kantor dan teriak “Throw me anything, biatch… I’m ready, I won’t fall, I am titanium…!” 

Selasa, 31 Desember 2013

Pulang



Sebagian besar pegawai dan karyawan di kantor tempat saya bekerja sekarang ini bukan orang Sambas asli. Mereka kebanyakan "perantau" dari Pontianak yang kos dan pulang ke rumah setiap akhir pekan. Seberapa jauh Sambas - Pontianak? well...sekitar 5-6 jam perjalanan (dengan kendaraan bermesin, bukan sepeda atau ngesot), kalau di Jawa mungkin seperti Semarang - Surabaya lah kira-kira.

Kadang saya tidak mengerti bagaimana mereka mau-maunya dan rela-relanya menghabiskan waktu dan tenaga untuk perjalanan sepanjang itu SETIAP akhir pekan. Bahkan tidak hanya sekali dalam sepekan.... Beberapa teman bahkan rela untuk melakukan perjalanan dengan jadwal : Jumat pulang ke Pontianak, Senin kembali ke Sambas, Selasa pulang ke Pontianak, Kamis ke Sambas, Jumat pulang ke Pontianak, Senin kembali ke Sambas. Perjalanan dengan skenario semacam itu biasanya dilakukan kalau ada hari libur "kejepit" macam libur tahun baru kali ini. Maksud saya...emangnya ga capek bolak-balik macam itu?.

Sampai kemudian perhatian saya terpaku pada satu kata, "pulang".

Dan saya teringat bagaimana saya ketika setelah 6 bulan merantau akhirnya bisa juga merasakan pulang dan bertemu keluarga. 6 jam perjalanan darat Sambas - Pontianak, tambahkan dengan waktu menunggu pesawat yang delay, tambahkan dengan waktu penerbangan Pontianak - Jakarta, tambahkan dengan waktu transit di Jakarta, tambahkan dengan waktu penerbangan Jakarta - Semarang, tambahkan dengan waktu perjalanan Semarang - Kendal. Jam 2 dini hari saat saya meninggalkan Sambas dan jam 10 malam saat saya akhirnya bisa tiba di rumah, total 20 jam saya habiskan untuk perjalanan pulang. 20 jam tanpa mandi. 20 jam dan badan saya masih kuat untuk langsung dilanjutkan dengan sesi obrolan akrab bersama orangtua dan saudara-saudara saya sampai jam 3 dini hari.

Sekarang saya tau bagaimana "pulang" bisa jadi suplemen yang membuat ketahanan tubuh meningkat berkali-kali lipat.


Selamat pulang bagi mereka yang "merayakan", selamat menikmati waktu berharga bersama orang-orang tersayang. Dan bagi kita yang belum bisa (sering-sering) pulang, semoga senantiasa diberi kekuatan. Amin ^_^

Kamis, 28 November 2013

A Proud Nebulis



Hari ini sepertinya harinya nostalgia. Berawal dari display picture BBM saudara-saudara di Nebula yang berganti menjadi lambang Nebula Indonesia plus status-status ucapan selamat bertambah usia untuk Nebula Indonesia. Saat tiba di kantor dan membuka halaman facebook saya di komputer, benar saja, hari ini 27 Nopember adalah tanggal berdirinya Organisasi Mahasiswa Pecinta Lingkungan FH UNDIP yang sangat saya banggakan ini.

Nebula Indonesia (klik di sini untuk semua postingan saya tentang Nebula indonesia sejak blog ini dibuat), 25 tahun sejak pertama kali dicetuskan oleh para pendirinya. Iya, 25. Sudah tua ya? seumuranlah sama saya...hahahaha... Saya tidak bisa menuliskan kata-kata dan kalimat-kalimat indah yang tepat untuk menggambarkan arti Nebula Indonesia buat saya. Nebula Indonesia bukan hanya organisasi, bukan hanya tempat bersosialisasi. Sejak awal saya mengenalnya, Nebula Indonesia sudah seperti rumah buat saya. Rumah yang meskipun hanya bisa saya kunjungi sampai di pelatarannya saja (karena waktu itu belum jadi anggota resmi) tapi sudah membuat saya nyaman.

2006, saat saya pertama kali mendengar nama Nebula Indonesia. Mba' Ririn (bukan kak Ririn si Kian Santang di postingan sebelumnya) dan mba' Nurul senior di kampus lah yang pertama kali mengenalkan saya dengan Nebula di acara orientasi mahasiswa baru FH UNDIP waktu itu. Tidak lama kemudian saya mengenal mas Prast dan saudara-saudara lainnya yang meskipun kebanyakan berpenampilan sangar dan acak-acakan tapi pemikirannya sangat luas dan luar biasa. Tidak sampai sebulan saya sudah mulai akrab dengan mereka, kemudian nekat ikut Camping Fun gratis yang mereka adakan di pulau Panjang di Jepara. Di acara camping selama 2 malam itu saya berkenalan dengan kang Aris, salah satu "tetua" di Nebula Indonesia yang membagi cerita lebih dalam tentang Nebula Indonesia. Di situ, malam itu, di pulau Panjang, dengan ditemani api unggun dan suara deburan ombak serta disaksikan ribuan bintang yang bertaburan di langit yang cerah (hedeeeehhhhhh....apa sih inihhhhhh?) saya bertekad dalam hati "no matter what, I'll join this awesome guys and be a part of Nebula Indonesia". FYI, ada hampir 10 orang selain anggota Nebula Indonesia yang ikut dalam Camping Fun itu dan HANYA saya yang akhirnya berhasil menjadi NEBULIS (sebutan untuk anggota Nebula Indonesia).

Bukan perjalanan mudah yang pasti akan sangat panjang kalau saya tuliskan di blog ini sampai akhirnya saya bisa bergabung dan menjadi anggota resmi di Nebula Indonesia. Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan manfaat yang saya dapat dari Nebula Indonesia. Cerita, pengalaman, ilmu, pengetahuan, teman, saudara, keluarga, rumah...you name it lah...semua saya dapat di Nebula Indonesia. Dan di postingan kali ini saya ingin membagi sekelumit memori saya dengan Nebula Indonesia.

"siksaan" awal, pasukan 2006

seusai memanjat tebing berbatu di sisi air terjun untuk mendapatkan nomor anggota

cuma para Nebulis yang tau artinya kalau foto ini saya beri caption "one step closer"

1996 / 1997, kegiatan Nebula Indonesia belum se"rapi" dan terorganisir seperti sekarang

2001 / 2002, awal kebangkitan Nebula Indonesia setelah sempat tidak aktif selama beberapa tahun

2001 / 2002, pelantikan angkatan 2001 di puncak Merbabu, di sinilah atribut "slayer merah" mulai dikenakan dan disematkan saat pelantikan anggota

2001 / 2002, para "tetua" Nebula Indonesia. Paling kiri Kang Aris, paling kanan bang Malih (cuma itu yang saya kenal)

Dear adek-adek Nebulis sekarang,
Iya...Nebula Indonesia pernah punya pasukan sebanyak ini

bendera Nebula Indonesia pernah berkibar di puncak Rinjani 

"siksaan" awal yang selalu sama...

Diksar angkatan 2002

mas Joko, mas Angga, mas Kambing, mas Kiki, mas Lendra, mas Teddy
mba' Nindya, mba' Anti, nba' Keke, mba' Ella


suksesi 2003 / 2004


"tetua" yang masih selalu setia datang ke sekre dan mendampingi adik-adik Nebulis
Kang Aris......!!! 


Angga Prastasa a.k.a Bleki, salah satu tokoh Nebula Indonesia yang tersohor


Diksar angkatan 2005

suatu waktu di depan Sekre; 
mas Penjol, mas Prast, mas Teddy, mba' Ririn, Niken, and me (di belakang)


Diksar angkatan 2007, waktu dimana "tragedi Raras" terjadi... hehehe...


suksesi 2008


oke, saya lupa ini acara apa... malam karantina Diksar angkatan 2009 sepertinya


Diksar angkatan 2010, sepertinya....


salah satu poster Nebula Indonesia


Ada terlalu banyak foto, cerita, dan adegan yang terekam di ingatan saya tentang Nebula Indonesia yang tidak bisa saya tampilkan semua di sini. Ada banyak pelajaran yang saya dapat. Pembentukan karakter. Keberanian. Tanggungjawab. Tidak berlebihan kalau saya bilang Nebula Indonesia berperan besar membentuk diri seorang MERINA ROSA yang sekarang. Dan tidak bisa saya ungkapkan betapa berterimakasih dan bersyukurnya saya untuk itu. 


sebagian pengurus Nebula Indonesia 2012 / 2013


Dirgahayu ke-25 NEBULA INDONESIA, semoga selalu dan semakin jaya. Nebula Indonesia...JAYA...!!! I'm so very proud to be a part of this GREAT FAMILY

so very PROUD to be Nebulis



ps : Terimakasih rekan-rekan pengurus yang masih setia menjaga Nebula Indonesia sampai sekarang


Selasa, 26 November 2013

Petualangan Hore-Hore

Hari Jumat kemaren diajakin Kak Rina, salah seorang teman kantor untuk berkunjung ke kebun durian milik keluarganya. Lagi musim durian sih...tapi karena yang namanya durian itu harus nunggu jatuh jadilah berangkat kesana aga' gambling juga. Nekat aja, kalo ternyata ga ada durian yang jatuh...kita beli aja di pinggir jalan.

Berangkat berenam sekitar jam 2 siang, 3 motor, 5 perempuan dan 1 bocah laki-laki. Namanya juga kebun, di Kalimantan pula, jadi harus jalan kaki dulu menembus "hutan" untuk sampai ke kebun yang dimaksud. Setelah tanya-tanya dengan beberapa orang yang kami temui, sampailah ke kebun yang dituju. Setiap musim durian tiba, pada umumnya pemilik kebun akan mendirikan pondok kecil untuk tempat beristirahat sembari menunggu durian jatuh, tapi di kebun keluarga kak Rina hari itu ternyata belum dibangun pondoknya. Alhasil kami "numpang" di pondok kebun sebelah yang kebetulan sedang kosong. Tidak lama kemudian mulai berasa angin berhembus yang disusul dengan suara "bukkk!!!", yups...ada durian jatuh yang berasal dari pohon di kebun keluarga kak Rina. Tidak menunggu lama langsung si buah durian dibelah... *di sini harusnya ada backsound Jupe "dibelah, Bang...dibelaaaahhhh...." diikuti dengan suara desahan*

 durian mentega, bukan nama sebenarnya...that's just how I call it

dinikmati beramai-ramai

Apa yah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan rasa durian yang baru jatuh... Uhmmmm...enak yang pasti. Buttery, lembut, manis, legit, dan hangat. Iya, hangat. Mungkin karena alkohol yang masih banyak terkandung... Atau mungkin karena kena panas matahari selama di pohon...hahahahaha....

Hari itu selama kami di sana cuma 2 durian yang jatuh. Tapi....sebelum kami tiba ternyata sudah ada yang mengumpulkan durian-durian yang jatuh dari pohon di kebun keluarga kak Rina, jadi kami bisa menikmati sampai puas  \(^_^)/

Beberapa jam kemudian karena cuaca mendung dan menghindari risiko kehujanan, kami pun memutuskan pulang. Sebenarnya selain Durian ada juga pohon Manggis yang sedang berbuah, tapi saya ga liat ada yang matang sih... Jadi hari itu cuma menikmati durian saja.

Pada hari minggu ku turut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka ternyata saya diajak lagi oleh orang yang sama ke kebun durian yang sama. Bedanya kali ini bawa 1 manusia kelaparan yang penasaran karena hari Jumat sebelumnya dia ga ikut ke kebun durian, sebut saja namanya kak Ririn. Sekitar jam 11.30 waktu kami bertiga (Rina, Ririn, Merina yang terbentuk dalam girlband TRIO RIN) tiba di kebun. Kali ini ternyata di kebun keluarga kak Rina sudah dibangun pondok kecil, jadi ga perlu numpang di pondok kebun sebelah lagi. Di sana kami bergabung dengan beberapa orang keluarga kak Rina, the more the merrier kan katanya...

Dan benar saja, suasana jadi lebih seru daripada hari Jumat. Dan karena hari masih siang, jadi ada lebih banyak waktu untuk "main-main" di kebun. Hal pertama yang kami lakukan saat tiba di kebun adalah......menikmati manggis, sambil menunggu durian jatuh. Ini manggis bukan sembarang manggis, ini manggis yang baru saja dipetik dari pohon, langsung ditangkap tangan dan masuk ke mulut...nom nom nom... \(^_^)/

 
 manggis baru dipetik, masih belum benar-benar masak

kalau batang buahnya sudah bisa tercabut begini, berarti sudah tua

belum terlalu berair, tapi tetap segar, manis dengan sedikit rasa asam

ini man(gg)is hehehehehehe......

Sambil menikmati manggis saya dan kak Ririn asyik bermain, memainkan apa saja yang kami temukan yang sekiranya bisa buat mainan... Sempat merasa seperti 2 anak kota yang tiba-tiba masuk kebun dan kemudian bertingkah aneh, but "hey, I don't care...this is fun anyway"

Saya : *memegang sebilah bambu* Ayo kita main perang-perangan
Kak Ririn : Ayok! kamu jadi apa?
Saya : Ceritanya kita main perang-perangan di Star Wars yah...
Kak Ririn : Oke, aku jadi Raden Kian Santang aja
Saya : *bengong*
Kak Ririn : *menjelaskan siapa Raden Kian Santang*
Saya : Oke *mengayun-ayunkan bambu yang pura-puranya adalah lightsaber (pedang laser, senjata di Star Wars)*
Kak Ririn : *komat-kamit sambil posisi kuda-kuda*
Saya : Kak Ririn ngapain? mana senjatanya?
Kak Ririn : Raden Kian Santang ga pake' senjata, pake'nya doa dan tenaga dalam
Saya : *bengong* ga jadi maen perang-perangan deh...

Untungnya tidak lama kemudian ada durian jatuh...langsung deh diserbu...

ini manis.....duriannya...

Oh...saya belajar hal baru lagi *selain pelajaran tentang Raden Kian Santang tentunya* kemarin. Saya tidak tau apa istilahnya kalau di Jawa, tapi di Kalimantan, well...di Kalimantan Barat ada istilah "kucing tidur" dalam dunia per-durian-an. Jadi "kucing tidur" atau "kucing tidok" (dengan "o" yang dilafalkan mirip vokal "u" dan "k" di akhir frasa diucapkan dengan samar) dalam logat Kalimantan (atau Melayu, sepertinya) adalah istilah untuk menyebut durian yang hanya ada satu biji dalam 1 bilik

"kucing tidur" pic taken from Google

Selesai makan durian...saatnya kegiatan selanjutnya, memetik Jengkol. Hah??? Jengkol??? Iyah Jengkol. Jadi ceritanya di kebun tetangga ada yang nebang pohon Jengkol, dan menawarkan buah Jengkolnya boleh diambil sesukanya. Karena pohon jengkolnya sudah rubuh, jadi gampang sih metiknya, tapi tetap harus manjat-manjat dikit...

Ini buah Jengkol

sebenarnya saya pengen manjat juga, tapi mengingat berat badan dan risiko bahaya yang ditimbulkan, biarkan kak Ririn yang melakukan...

Jujur, di Jawa keluarga saya tidak akrab dengan Petai dan Jengkol, mencicipi Jengkol untuk pertama kali pun baru bisa saya alami di Kalimantan, jadi yah masih takjub juga melihat bentuk Jengkol yang masih asli di pohon...hehehehehehe....

Selesai "panen" Jengkol, balik ke kebun keluarga kak Rina dan menyaksikan Ibu dan kakak kak Rina mulai memproses buah Jengkol hasil pencarian kami. Cuma dikupas sih, nantinya di rumah akan diolah menjadi rendang Jengkol katanya...

sebagian Jengkol hasil buruan kami sedang dikupas....

kulit "limbah" hasil kupasan Jengkol

Dari kak Ririn saya dapat info baru. Bukan, bukan info bahwa Raden Kian Santang juga sangat doyan Jengkol, bukan.... Bahwa ternyata kulit jengkol bisa dibuat mainan cubit-cubitan..hahahahahaha.... 

bukan sulap, bukan sihir, kulit Jengkol ini bisa menempel tanpa perekat, hanya perlu teknik "cubitan kulit Jengkol"

Puas mainan cubit-cubitan kulit jengkol dan beberapa permainan menggunakan kulit Jengkol, kami pergi ke sungai yang letaknya tidak jauh dari kebun durian.

sungainya sepi, sejuk, adem ditambah angin sepoi-sepoi...damai rasanya


Raden Kian Santang eh...Kak Ririn... bahagia menemukan sampan di sungai

galau pengen berenang di sungai tapi ga bawa baju ganti...

"bagus nih pemandangannya buat foto pre-wedding" kata kak Ririn

 tampang fotografer yang pasrah dipaksa pose oleh modelnya

Sebenarnya suasananya enak banget buat duduk ngobrol dan curhat, tapi untungnya sudah dapat SMS ajakan pulang dari kak Rina yang menunggu di kebun, jadi kami terselamatkan dari kegalauan... *tsaaaahhhh....*. Di perjalanan pulang dari kebun menuju jalan raya sempat nemu pohon Lada dan pohon Langsat/Duku

biasanya liat pohon ini cuma di iklan-iklan produk lada kemasan di TV

pohon Langsat/Duku

Yah demikianlah, catatan si Boy petualangan saya weekend kemarin. Seru. Sebagai bocah yang masa kecilnya dihabiskan di kebun-kebun dan "hutan" di Sulawesi, senang rasanya bisa kembali bermain-main di tempat seperti ini, melihat dan belajar mengenal hal-hal baru, bring out the little kid inside of me. \(^_^)/

Panjang yah postingan kali ini... Yagitudeh... Udahan ah, saya mau makan rendang jengkol buatan Ibu kak Rina dulu.... ^_^


"jangan jadi orang dewasa yang membosankan, tetaplah jadi seperti anak kecil yang selalu ingin bertualang dan penasaran dengan hal-hal baru" << I heard that somewhere...